
oleh : Pebruarianto Hutabarat, S.Kom ( Guru Produktif TKJ)
Kamis , 07/02/2026 ; 16.08 WIB
Growth mindset dan fixed mindset merupakan dua konsep pola pikir fundamental yang diperkenalkan oleh psikolog Carol Dweck dari Stanford University dalam bukunya Mindset: The New Psychology of Success (2006). Fixed mindset memandang kemampuan sebagai sesuatu yang tetap dan bawaan lahir, sementara growth mindset percaya bahwa kecerdasan, bakat, dan keterampilan bisa dikembangkan melalui usaha, pembelajaran, dan ketekunan. Konsep ini sangat relevan di era digital saat ini, terutama bagi pendidik seperti kita di SMK HKBP Pematangsiantar, di mana menerapkan growth mindset dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar machine learning, promosi sekolah, dan pengembangan karakter.

Di era Industri 4.0, siswa SMK menghadapi tantangan besar: dunia kerja yang dinamis dan cepat berubah. Banyak siswa vokasi merasa stuck karena pola pikir fixed mindset, yang melihat kemampuan sebagai bawaan tetap, sehingga mudah menyerah saat gagal dalam praktik UKK atau proyek industri. Growth mindset, konsep dari Carol Dweck, menawarkan solusi: keyakinan bahwa skill bisa dikembangkan melalui usaha dan belajar dari kegagalan.
Pengertian Fix Mindset dan Growth mindset
Fixed mindset, atau pola pikir tetap, adalah keyakinan bahwa kualitas seperti kecerdasan, kreativitas, dan bakat bersifat statis dan tidak dapat diubah. Orang dengan pola pikir ini melihat diri sebagai “pintar” atau “bodoh” secara mutlak, sehingga menghindari tantangan karena takut membuktikan ketidakmampuan mereka. Menurut Dweck, ini menciptakan pandangan deterministik terhadap dunia, di mana kegagalan dianggap sebagai akhir dari segalanya, bukan peluang belajar.

Ciri utama fixed mindset meliputi ketakutan akan kegagalan, ignoransi terhadap kritik, dan rasa iri terhadap kesuksesan orang lain. Misalnya, siswa dengan fixed mindset mungkin menyerah saat mengerjakan algoritma K-Means clustering karena percaya “saya tidak berbakat matematika,” alih-alih berlatih lebih giat [ dari riwayat]. Dampak negatifnya adalah stagnasi: mereka bergantung pada pujian atas bakat bawaan, bukan usaha, sehingga potensi penuh tidak tercapai. Di konteks pendidikan vokasi Indonesia, fixed mindset sering terlihat pada siswa yang gagal UKK (Ujian Kompetensi Kerja) dan menyalahkan faktor eksternal, bukan merefleksikan strategi belajar mereka.

Sebaliknya, Growth mindset adalah pola pikir yang percaya kecerdasan, bakat, dan kompetensi vokasi bukanlah sesuatu yang statis, melainkan bisa tumbuh melalui dedikasi, strategi belajar, dan ketekunan menghadapi rintangan. Berbeda dengan fixed mindset, yang menghindari risiko karena takut terlihat tidak pintar, growth mindset merangkul kegagalan sebagai feedback berharga. Dweck mendefinisikannya sebagai keyakinan bahwa “kualitas manusia dapat berubah dan ditingkatkan sesuai usaha“. Orang dengan growth mindset memeluk tantangan sebagai kesempatan tumbuh, melihat kegagalan sebagai umpan balik, dan belajar dari kritik untuk beriterasi. Ciri-cirinya termasuk ketekunan tinggi, rasa ingin tahu, dan inspirasi dari kesuksesan orang lain. Contohnya, seorang peneliti pendidikan seperti Anda mungkin gagal mengoptimalkan model SVM untuk data penerimaan siswa, tapi justru bereksperimen dengan hyperparameter baru di Google Colab. Hasilnya? Inovasi seperti strategi promosi sekolah berbasis clustering yang lebih efektif via Facebook Ads.

Di SMK, konteks ini sangat pas karena kurikulum berbasis kompetensi menuntut siswa jurusan seperti TKJ atau TKR untuk beradaptasi dengan teknologi baru, seperti AI dan cybersecurity. Misalnya, saat siswa gagal merakit jaringan di lab, growth mindset mendorong mereka analisis kesalahan daripada menyalahkan “kurang bakat”. Penelitian menunjukkan guru SMK dengan growth mindset menciptakan siswa lebih tangguh, siap link and match dengan industri. Ini selaras dengan Profil Pelajar Pancasila: mandiri, gotong royong, dan bernalar kritis.
Manfaat Growth Mindset bagi Siswa dan Guru
Manfaat pertama adalah peningkatan motivasi intrinsik. Siswa SMK dengan growth mindset melihat usaha sebagai jalur misteri bukan sia-sia, pola pikir ini mendorong ketangguhan siswa menghadapi tekanan proyek riil. Hasilnya, prestasi UKK naik karena siswa rajin latihan meski awalnya gagal.
Kedua, guru menjadi role model efektif. Guru yang memuji proses (“Bagus, kamu sudah coba strategi baru!”) daripada hasil (“Pintar sekali!”) membangun budaya belajar berkelanjutan. Manfaat ini krusial di era pendidikan modern, di mana SMK harus kompetitif via promosi digital dan data-driven strategy. Ketiga, integrasi dengan pendidikan karakter: growth mindset mendukung moral education di digital era, mengurangi disiplin rendah yang bisa diklasifikasi via machine learning.
Studi di SMKs HKBP Pematangsiantar menyoroti lima manfaat: adaptasi cepat, kolaborasi tim, inovasi, resiliensi, dan lifelong learning—semua esensial untuk lulusan vokasi. Di konteks Indonesia, ini tingkatkan daya saing SMK di Sumatera Utara terhadap revolusi industri. Growth mindset bukan tren, tapi fondasi pendidikan SMK unggul. Dengan terapkan strategi ini, siswa bukan hanya kompeten teknis, tapi tangguh karakter—siap kontribusi industri. (ph). 07/02/2026



