
Pematangsiantar, 17/1/2026 – SMKs HKBP Pematangsiantar, salah satu sekolah vokasi Kristen tertua di Sumatera Utara, turut menggelar Doa Serentak Nasional dalam rangka Hari Sekolah Kristen Indonesia (HSKI) 2026 yang diprakarsai Majelis Pendidikan Kristen (MPK) Indonesia.

Kegiatan ini dilaksanakan serentak pada 17 Januari 2026 pukul 07.00 WIB selama tujuh menit, mengikuti panduan nasional MPK dengan tujuh pokok doa seperti bersyukur atas 400 tahun penyertaan Tuhan bagi sekolah Kristen, visi misi amanat agung, serta kuatnya kepala sekolah dan guru. Siswa, guru, dan staf SMKs HKBP Pematangsiantar berpartisipasi penuh di aula atau lapangan sekolah, sejalan dengan inisiatif serupa di wilayah HKBP lainnya seperti STT HKBP setempat, ucap Ibu Melda P Sihaloho, S.Pd selaku penanggungjawab kegiatan.

Majelis Pendidikan Kristen (MPK) Indonesia memiliki visi 2030 yang berfokus pada transformasi sekolah Kristen, termasuk sekolah-sekolah di bawah HKBP seperti SMKs HKBP Pematangsiantar. Bagi sekolah HKBP, visi ini berarti peningkatan kualitas guru, kurikulum berbasis nilai Kristiani, digitalisasi pembelajaran, dan kolaborasi dengan sinode serta industri untuk lulusan kompetitif. MPK mendukung HKBP melalui MoU universitas Kristen dan inisiatif transformasi, sejalan dengan tema “Fructus in Altum” untuk hasil berlimpah

Majelis Pendidikan Kristen (MPK) Indonesia menerapkan strategi komprehensif melalui “7 Strong” untuk merealisasikan visi transformasi sekolah Kristen hingga 2030. Strategi inti mencakup: Strong MPK Wilayah, Strong Financial, Strong Strategy (Product), Strong Staff, Strong Brand, Strong Partnership, dan Strong Pray. Ini mendukung lima misi utama: membangun kolaborasi stakeholder untuk pembelajaran berkualitas, percepatan digitalisasi, bantuan sekolah tertinggal via peningkatan guru/kurikulum/infrastruktur, dorongan kerjasama industri, serta jejaring global untuk inovasi.

MPK menjalankan MoU dengan universitas Kristen, sinode gereja, yayasan, dan perusahaan untuk cetak guru berkualitas serta dukung sekolah lemah di daerah tertinggal. Program prioritas meliputi peningkatan kurikulum, pelatihan guru, kolaborasi sekolah-gereja-masyarakat, serta pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran inklusif. Penambahan pengurus baru mempercepat implementasi, dengan komitmen layani 1,2 juta siswa berbasis nilai Kristiani. (ph).




